

Jurnalis cilik Mugeb Primary School menelusuri sejarah Bandar Grissee. Mereka menjelajahi gedung tua, sumur bersejarah, dan berbagai peninggalan masa lalu.
Pagi cerah di Bandar Grissee mendadak ramai pada Jumat (27/8/2025). Rombongan jurnalis cilik, duta sekolah, dan IPM Junio dari Mugeb Primary School terlihat antusias, melakukan observasi lapangan yang berbeda dari biasanya. Total 29 siswa dan guru pendamping menyusuri jejak sejarah di pusat kota Gresik, Jawa Timur.
“Sebelum ke Bandar Grissee, kami melewati Gedung DPRD Gresik. Gedung itu masih asli dan belum direnovasi,” tutur Nabilah Ayu Azalia, seorang siswa dari kelas 4 Ant yang mencatat detail observasi.
Nabilah menambahkan, gedung yang terasa panas itu dulunya adalah asrama militer saat masa pendudukan Belanda dan Jepang.
Perjalanan mereka berlanjut ke area lain di Bandar Grissee. Di sana, mereka menemukan rumah Wakil Bupati Gresik, dr. H. Asluchul Alif, M.Kes., M.M., M.H.P.
Bangunan bergaya Belanda itu memiliki atap tinggi, jendela besar, dan banyak pintu. Meskipun dominan warna putih, warnanya sudah memudar karena termakan usia. Banyak bangunan tua dengan arsitektur serupa menghiasi kawasan ini, memancarkan aura masa lalu yang kuat.
Di depan Gardu Suling, rombongan sempat mengabadikan momen di depan tulisan “Bandar Grissee” dengan huruf “Bandar” berwarna merah dan “Grissee” putih. Sebuah detail kecil yang menambah keunikan kawasan.
Selain bangunan-bangunan tua, mereka juga memperhatikan elemen kota yang ramah pejalan kaki. Di sepanjang jalan, terbentang jalur berwarna kuning khusus untuk penyandang disabilitas netra.
Lampu-lampu unik berwarna hitam berjejer rapi di trotoar, memberikan sentuhan estetika modern di antara nuansa kuno. Pepohonan rindang menjadi “pabrik oksigen” yang menyejukkan udara di tengah terik matahari.

Sebelum kembali, para jurnalis cilik ini menyempatkan diri mengunjungi Sumur Tangsi. Sumur besar itu dibangun dengan batu bata merah keorenan, sementara bagian atasnya berwarna abu-abu. Sebuah jaring besi menutupi permukaannya, mencegah orang membuang sampah sembarangan.
Pemandu wisata menceritakan kisah di balik sumur tersebut. Menurutnya, sumur itu awalnya digali untuk mencari minyak, tetapi yang keluar justru air bersih. Kisah ini menambah kekaguman para siswa. Hingga kini, sumber mata air dari sumur itu masih mengalir dan bisa dimanfaatkan.
“Sumurnya besar, warnanya merah keorenan khas batu bata,” kata Nabilah menggambarkan. Detil itu menunjukkan betapa telitinya para jurnalis cilik ini dalam mengamati setiap sudut sejarah. (*)
Berita ini diolah dari catatan observasi Nabilah Ayu Azalia, 4 Ant, Anggota Jurnalis Cilik Mugeb